Artikel

Kumpulan artikel

Disaring dari berbagi sumber

Apa saja yang bisa Disembuhkan oleh Hipnoterapi ?

Hipnoterapi bisa digunakan untuk mengatasi / menyembuhkan masalah yg dialamai orang dewasa, remaja dan anak-anak. Trauma / luka batin, stress, frustrasi, depresi dan kurang percaya diri adalah contoh-contoh penyakit yang sangat mungkin bisa disembuhkan oleh Hipnoterapi. Masih banyak contoh-contoh yang lainnya ..
Apa saja yang bisa <span>Disembuhkan</span> oleh <span>Hipnoterapi</span> ?

Apa saja Syarat untuk menjalani Hipnoterapi ?

Klien mengijinkan dirinya untuk diterapi. Klien jelas aspek apa yang ingin diatasi dengan hipnoterapi. Klien datang atas keinginan atau kesadarannya sendiri, bukan atas rayuan, bujukan, desakan, paksaan, dan atau ancaman orang lain dan harus ada niat sungguh-sungguh dari diri sendiri untuk berubah atau keluar dari masalah.
Apa saja <span>Syarat</span> untuk menjalani <span>Hipnoterapi</span> ?

Apakah ada jaminan kesembuhan oleh Hipnoterapi ?

Hipnoterapi adalah kontrak upaya, bukan kontrak hasil. Sesuai dengan kode etik kami tidak pernah dan tidak boleh menjanjikan kesembuhan kepada klien. Yang dapat kami jamin: terapi dilakukan dengan standar yang sangat tinggi mengacu pada Quantum Hypnotherapeutic Protocol yang ditetapkan Adi W. Gunawan Institute of Mind technology.
Apakah ada jaminan <span>kesembuhan</span> oleh <span>Hipnoterapi</span> ?

Distorsi Waktu Dan Hipnoterapi

Hipnosis adalah satu kondisi kesadaran khusus di mana kemampuan tertentu dalam diri manusia mengalami peningkatan sementara kemampuan lainnya meredup di latar belakang. Hipnosis per se tidak bersifat terapeutik. Namun saat hipnosis digabungkan dengan jenis terapi lainnya ia dapat meningkatkan secara signifikan efek terapeutik yang dihasilkan.

Hipnosis adalah satu bentuk kesadaran yang meningkat (altered state of consciousness / ASC). Istilah ASC pertama kali digunakan oleh Arnold M. Ludwig (1966) dengan definisi berikut:
…..setiap kondisi mental yang disebabkan oleh faktor atau tindakan baik secara fisik, psikologis, atau farmakologis, yang secara subjektif dapat diketahui oleh individu itu sendiri (atau oleh pengamat yang objektif), di mana kondisi mental ini berbeda dengan kondisi kesadaran atau fungsi psikologis normal yang biasanya dialami oleh seseorang dalam keadaan sadar normal.

Ada banyak fenomena, pada aspek fisik dan mental, yang bisa muncul dalam kondisi hipnosis, baik muncul secara spontan atau sebagai akibat sugesti. Munculnya fenomena ini juga sangat dipengaruhi oleh tipe sugestibilitas serta kedalaman hipnosis yang berhasil dicapai pada satu waktu tertentu.
Beberapa contoh fenomena hipnosis antara lain perubahan persepsi (halusinasi positif / negatif visual, auditori, olfaktori, gustatori, dan kinestetik), pengaruh terhadap proses otonom dengan menggunakan sugesti dan imajinasi, pengaruh terhadap mood dan emosi, pengaruh pada kognisi, amnesia pascahipnosis, hipermnesia, regresi, revivifikasi, disosiasi, dan perubahan hubungan subjek-objek, dan distorsi waktu.
Sesuai judul artikel dalam kesempatan ini saya hanya akan membahas distorsi waktu. Sedangkan fenomena hipnosis lainnya akan dibahas di kesempatan lain.

Distorsi waktu adalah kemampuan individu mengalami waktu lebih lama atau lebih singkat dari lama waktu yang sesungguhnya (objective time (OT) / clock time (CT)). Dalam hal ini waktu sesungguhnya sama sekali tidak bertambah atau berkurang. Distorsi waktu terjadi karena persepsi kita terhadap waktu berubah akibat pengaruh kondisi hipnosis. Jadi, distorsi waktu adalah waktu subjektif yang dialami dan dirasakan oleh individu.

Secara teknis waktu subjektif disebut dengan experiential time (ET), atau seeming duration (SD), atau estimated personal time (EPT).

Distorsi waktu terjadi bila rasio ET/CT jauh lebih besar atau lebih kecil dari satu. Ada dua jenis distorsi waktu yang dibahas di artikel ini yaitu kontraksi waktu dan ekspansi waktu. Kontraksi waktu, waktu terasa lebih cepat dari waktu sesungguhnya, terjadi bila rasio ET/CT < 1. Sedangkan ekspansi waktu, waktu terasa lebih lama dari waktu sesungguhnya, terjadi bila rasio ET/CT > 1.

Distorsi waktu yang dibahas di artikel ini berbeda dengan regresi (age regression), klien mundur ke masa lalu, dan progresi (pseudo-orientation in time), klien maju ke masa depan. Walau regresi dan progresi juga adalah distorsi waktu, klien mundur atau maju menyusuri garis waktu, namun tujuannya dalam hipnoterapi bertujuan melakukan modifikasi dan (re)konstruksi konten pikiran bawah sadar untuk tujuan terapeutik.

Distorsi waktu sering kita alami dan adalah satu keniscayaan. Saat perhatian kita tercerap pada satu aktivitas atau pengalaman yang menyenangkan, misalnya sedang berdua dengan orang yang kita kasihi, nonton film, atau main game, waktu terasa (sangat) singkat. Kontraksi waktu juga terjadi saat kita bermimpi.

Sebaliknya saat kita berada dalam situasi atau pengalaman yang kurang menyenangkan, misalnya menunggu antrian atau sedang mengikuti pelajaran yang pengajarnya menyampaikan bahan ajar dengan monoton dan membosankan, waktu terasa (lebih) lama.

Saat terjadi distorsi waktu, kita sesungguhnya berada dalam kondisi hipnosis. Semakin dalam kondisi hipnosis yang berhasil dicapai maka semakin signifikan distorsi yang bisa dialami.
Saat pertama kali belajar hipnosis dan hipnoterapi saya cukup tergelitik untuk bertanya, “Apa yang menyebabkan terjadinya distorsi waktu? Bagaimana fenomena ini, dalam konteks hipnoterapi, bisa muncul dengan sendirinya? Mengapa yang lebih sering dialami klien adalah kontraksi waktu, bukan ekspansi waktu?”

Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas saya membaca berbagai berbagai buku dan jurnal hipnosis dan hipnoterapi. Sebagai orang yang biasa berpikir kritis saya selalu ingin tahu dasar teori dalam menjelaskan fenomena. Saya tidak bisa serta merta menerima satu penjelasan apa adanya. Dengan mengetahui secara pasti apa yang terjadi di pikiran klien, saya bisa benar-benar yakin dan percaya diri dalam melakukan hipnoterapi.

Dulu di awal karir saya sebagai hipnoterapis klinis ada klien yang mengalami kontraksi waktu dan tidak jarang juga yang mengalami ekspansi waktu. Mengapa bisa terjadi perbedaan ini? Setelah saya teliti dengan saksama ternyata klien yang mengalami kontraksi waktu adalah mereka yang berhasil dibimbing masuk ke kondisi hipnosis yang dalam. Sedangkan yang mengalami ekspansi waktu adalah yang tidak berhasil masuk ke kondisi hipnosis yang dalam dan tampak agak sedikit kurang nyaman / gelisah karena proses terapi berlangsung agak lama.

Berbekal pengalaman ini saya mengembangkan teknik induksi yang mampu membimbing klien masuk dengan cepat dan mudah ke kondisi hipnosis yang (sangat) dalam. Sejak saat itu semua klien saya hanya mengalami kontraksi waktu. Yang lebih menarik lagi, dari pengalaman klinis, saya menemukan semakin dalam kondisi hipnosis maka semakin singkat waktu subjektifnya. Itu sebabnya sesi terapi yang biasanya berlangsung antara dua sampai tiga jam, seringkali dirasakan oleh klien dan juga saya sebagai terapis, hanya berlangsung lima belas sampai tiga puluh menit. Kontraksi waktu ini terjadi secara alamiah dan apa adanya tanpa saya memberi sugesti.

Kembali ke pertanyaan sebelumnya, “Bagaimana penjelasan ilmiah distorsi waktu?”
Dalam kondisi hipnosis, pikiran manusia memproses informasi dengan cara yang berbeda dari kondisi sadar normal. Informasi yang diproses, dalam satuan waktu tertentu, lebih sedikit dibandingkan dalam kondisi sadar normal. Klien dalam kondisi hipnosis menerima lebih sedikit input dari lingkungan sekitarnya. Mereka fokus hanya pada suara dan bimbingan terapis.

“Apa yang terjadi pada pikiran klien sehingga hanya fokus pada suara terapis?”
 Untuk bisa menjawab pertanyaan ini saya akan menjelaskan sekilas mengenai GRO (generalized reality orientation). GRO adalah kerangka referensi internal yang stabil yang mengarahkan seseorang untuk dapat bernavigasi dengan baik dan terarah, dalam ruang dan waktu, bahkan saat ia tidak secara khusus dan saksama memerhatikan keadaan sekelilingnya (Shor,1959). Sedangkan Bruner (1973) menyatakan GRO adalah skema kognitif yang bekerja atau aktif di latar belakang kesadaran yang memungkinkan kita untuk pergi “melampaui informasi yang diperoleh” pada setiap momen untuk mempertahankan orientasi kita terhadap realita.

Penjelasan Shor dan Bruner akan lebih mudah dipahami dengan ilustrasi berikut. Saya yakin Anda pasti pernah mengendarai sepeda motor atau mobil menuju ke satu tempat. Ada kalanya Anda sadar sepenuhnya jalur yang Anda lalui. Di lain kesempatan, pikiran sadar Anda sibuk memikirkan hal-hal lain dan Anda tidak menyadari jalan yang telah Anda lalui. Namun Anda tetap dapat sampai di tujuan dengan selamat. Saat Anda sibuk memikirkan hal lain dan tetap berada dalam jalur jalan yang Anda lalui, ini semua adalah kerja GRO.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, GRO adalah fungsi pikiran yang mengawasi keadaan sekeliling. GRO tidak bekerja saat kita tidur. Dalam hipnoterapi, tingkat keaktifan GRO bergantung pada kedalaman hipnosis yang berhasil dicapai. Semakin dalam kondisi hipnosis, fungsi GRO semakin pudar. Klien yang baik adalah yang bersedia dan mampu melepaskan fungsi pengawasan GRO.

Saat klien berhasil mencapai kondisi hipnosis yang (sangat) dalam, GRO tidak lagi bekerja dan klien mengalami perubahan persepsi terhadap realita. Itu sebabnya klien tidak begitu menyadari atau responsif terhadap lingkungannya dan hanya fokus pada (suara) terapis. Klien masih tetap bisa mendengar suara yang berasal dari lingkungan namun tidak merasa terganggu. Bahkan ada yang tidak lagi bisa secara sadar mendengar suara dari sekitarnya.

Saat GRO tidak aktif, informasi yang masuk ke pikiran menjadi sangat berkurang dan mengakibatkan efisiensi pemrosesan informasi meningkat signifikan. Dari hasil penelitian diketahui klien dalam kondisi hipnosis yang lebih dalam memproses informasi lebih cepat daripada yang kurang dalam (Ingram dkk., 1979).

Secara objektif, dalam kondisi hipnosis, klien mampu memproses informasi dengan lebih akurat dan lebih fokus. Secara subjektif, informasi yang diproses dengan tingkat fokus yang tinggi menghasilkan pengalaman yang berbeda.

Waktu subjektif berhubungan dengan jumlah informasi yang diproses dalam satu waktu tertentu (Ornstein, 1970). Karena jumlah informasi yang diproses dalam kondisi hipnosis sangat berbeda dengan kondisi normal maka sangat wajar bila persepsi terhadap waktu juga ikut berubah. Klien dalam kondisi hipnosis kurang akurat dalam memprediksi rentang waktu, bisa lebih singkat (kontraksi waktu) atau lebih lama (ekspansi waktu). Klien cenderung salah memprediksi lama waktu (kontraksi waktu) hingga 40% (Bower & Brenneman, 1979).

Klien dalam kondisi hipnosis, karena mengalami kesulitan dalam orientasi waktu, akan menggunakan acuan eksternal sebagai referensi untuk menentukan rentang waktu. Acuan eksternal ini adalah sugesti yang diberikan terapis untuk menghasilkan efek distorsi waktu, mempercepat atau memperlambat waktu.

Manfaat Distorsi Waktu Dalam Hipnoterapi

Ada banyak manfaat distorsi waktu dalam hipnoterapi, bergantung pada pengalaman, pengetahuan, kebutuhan terapi, dan kreativitas terapis:

- Ratifikasi Kondisi Hipnosis
Ada klien perlu dibuat yakin bahwa ia telah masuk kondisi hipnosis. Klien tipe ini biasanya akan terus bertanya apakah ia telah masuk atau belum ke kondisi hipnosis. Bila ia tidak merasa yakin sudah berhasil dihipnosis maka pikiran sadarnya akan menganulir semua hasil terapi yang telah berhasil dicapai.
Saya menggunakan distorsi waktu untuk ratifikasi kondisi hipnosis. Di akhir sesi terapi klien saya sering kaget saat menyadari bahwa proses terapi telah berjalan selama tiga jam. Mereka sering berkata, “Wah… nggak terasa ya. Saya pikir baru 20 menit.” Dengan merasakan sendiri distorsi waktu maka klien menjadi benar-benar yakin bahwa mereka berhasil masuk kondisi hipnosis.

- Review Materi Pelajaran
Seringkali, untuk memantapkan pemahaman dan penguasaan terhadap materi pelajaran, kita melakukan pengulangan dengan melakukan review. Review ini dilakukan dalam kondisi sadar normal. Sudah tentu ini akan sangat menyita waktu bila materi yang akan diulang cukup banyak.
Salah satu cara mudah dan efektif untuk mengulang apa yang pernah dipelajari adalah melakukannya di pikiran bawah sadar dengan memanfaatkan distorsi waktu. Materi yang bila dipelajari dalam kondisi sadar normal membutuhkan waktu lama, misal sekitar 2 sampai 3 jam, dapat diselesaikan hanya dalam waktu beberapa menit dengan tingkat penguasaan dan pemahaman yang tinggi.

- Membangkitkan dan Menguatkan Kembali Emosi Positif
Dalam beberapa kasus yang pernah saya tangani, khususnya yang berhubungan dengan relasi suami istri, setelah luka batin atau emosi negatif berhasil diatasi maka saya akan membangkitkan dan menguatkan kembali perasaan cinta yang dulu pernah ada di hati klien terhadap pasangannya.
Saya melakukan regresi ke pengalaman indah saat masih pacaran atau di awal pernikahan, atau di kejadian mana saja yang membuat klien merasakan begitu mencintai dan dicintai pasangannya.
Saat perasaan cinta ini sudah mulai dirasakan kembali saya melanjutkan dengan sugesti untuk memperkuat perasaan ini dan meminta klien mengalami kembali semua perasaan ini bersama pasangannya. Namun kali ini saya memberi sugesti untuk distorsi waktu. Peristiwa yang sebenarnya berlangsung hanya beberapa saat, tidak lama, saya perpanjang waktunya, selama yang dibutuhkan, agar benar-benar dapat diresapi oleh klien. Cara ini bisa diaplikasikan untuk perasaan positif apa saja.

- Mempelajari dan Menguasai Keterampilan Baru
Pikiran tidak dapat membedakan antara hal yang riil dan imajiner. Untuk itu kita dapat berlatih, secara imajiner dalam kondisi hipnosis, dalam waktu subjektif yang lama, namun sesungguhnya hanya sebentar (clock time).

Setelah berlatih secara imajiner maka keterampilan baru ini perlu diintegrasikan seutuhnya dengan mempraktikkannya dalam kondisi riil. 
 
- Untuk Manajemen Rasa Sakit

Secara umum distorsi waktu bekerja berdasar perasaan positif atau negatif yang dialami seseorang. Bila satu kegiatan membangkitkan perasaan suka atau positif maka waktu akan terasa berlalu dengan cepat (kontraksi waktu). Sebaliknya bila emosi yang menyertai suatu kegiatan atau situasi adalah emosi negatif maka waktu akan terasa berjalan sangat lambat.

Demikian juga dengan rasa sakit. Bila seseorang mengalami sakit, secara fisik, maka waktu akan terasa sangat lama. Misalnya, ia baru selesai menjalani operasi. Tentu perlu waktu agar luka bekas operasi bisa sembuh total.

Untuk membantu klien ini terapis dapat memberikan sugesti sehingga waktu yang lama terasa hanya sekejap. Dengan demikian penderitaan klien dapat berkurang signifikan. (Adi W Gunawan)

JoomShaper